
Saat masih kecil,anda percaya bahwa setiap harapan yang dibisikkan ke langit malam yang bertaburan bintang akan terwujud. Saat masih kecil,kita memiliki kejelasan untuk melihat kemungkinan, tanpa terhalang oleh pemikiran rasional. Kita bisa mempercayai masa depan tanpa keraguan.
Pada usia berapa anda berkesimpulan bahwa harapan hanyalah mainan anak-anak? Siapa yang menyuruh kita “menjadi dewasa” dan merampas impian-impian kita?
Mari kita meraih kembali keyakinan masa kanak-kanak kita terhadap harapan dan marilah melangkah sedikit lebih jauh menuju kepercayaan pada diri kita.
Percayalah bahwa jika kita mengharapkan sesuatu,itu bisa terjadi.
Percayalah bahwa kita bisa menjadi “seseorang” yang kita harapkan.
Percayalah bahwa kita bisa mengubah sesuatu pada diri kita yang tidak memuaskan.
Dalam hal harapan,mungkin tiba saatnya untuk berhenti menjadi orang dewasa, saatnya untuk kembali ke sesuatu keadaan, ketika imajinasi memungkinkan kita memiliki kebebasan mutlak untuk meminta sesuatu yang tidak mungkin,tidak praktis dan tidak terbayangkan. Sebagai orang dewasa,kita menyebutkannya sebagai DOA,VISUALISASI,ATAU FOKUS. Tetapi menurut sudut pandang seorang anak, hal ini hanyalah HARAPAN.
Ada sebuah kolerasi yang kuat antara harapan dan isyarat,karena ketika harapan kita terwujud atau doa kita terjawad, kadang-kadang perwujudan ini meuncul dalam bentuk suatu kebetulan Isyarat dari TUHAN?
Berikut ini adalah sebuah kisah yang mengutarakan kolerasi ini :
Ada seorang wanita,seseorang yang mengalami masa-masa sulit,ia tidak mendapatkan pekerjaan dan banyak hal yang membutuhkan biaya,bahkan lemari makanan sudah kosong.
Suatu pagi ia menelaah situasi yang dihadapinya. Sewa rumah terlambat dibayar sebesar Rp.500.000. Arus listrik akan dipadamkan kecuali jika ia membayar Rp 80.000. Tagihan telepon terus menagih pembayaran sebesar Rp 100.000.
Berarti dia butuh biaya Rp 680.000.Buku Banknya menunjukkan bahwa ia memiliki saldo sebesar Rp 50.000.
Wanita ini hampir tidak punya apa-apa. Tetapi ia masih memiliki kekuatan DOA. Sebelum ia pergi ke kota untuk melakukan beberapa pekerjaan,ia mengambil Alkitab dari rak,menempatkannya di lantai, dan berdiri di atasnya.
“Tuhan,Kau telah berkata agar kami berdiri di atas kata-kataMu dan akan Kau berikan kebutuhan kami.Baiklah,inilah aku.”
Kemudian ia turun dari Alkitabnya dan berangkat.
Di kantor pos,hatinya melonjak,ada dua surat terjatuh dari tumpukan surat-surat tidak penting. Satu surat berisi cek sisa sebesar Rp 200.000 dari sebuah iklan lama yang ternyata masih beredar tanpa disadarinya; surat lainnya berisi cek sebesar Rp 180.000,pengembalian dari sebuah sekolah tempat adiknya mendaftar.
Terlambung oleh harapan baru, ia bergegas menyetorkan cek-cek itu ke Bank. Pada saat itulah ia mendapatkan berita gembira lainnya; terdapat kesalahan ketik- saldo banknya bukan Rp.30.000 tetapi Rp 300.000.
Setelah cek-cek tsb disetorkan,saldo banknya adalah Rp 680.000, tepat seperti ang dibutuhkannya untuk membayar sewa rumah,listrik dan telepon.
Ini adalah isyarat yang sangat kuat! Jika kita adalah Tuhan dan ingin berkomunikasi dengan manusia tanpa menggunakan suara,bukankah kita akan melakukannya melalui keajaiban dan kebetulan-kebetulan kecil__ Isyarat Tuhan?




